Friday, January 23, 2009

Renungan

Renungan


Sepucuk surat dari seorang ayah.
Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya
hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat
seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan
miliknya, melainkan milik Tuhannya.Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum
hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia
didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah
terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun
kutemui.Nak, menjadi ayah itu mulia.Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah
betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog
seorang ayah dengan anak-anaknya.Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu
berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna
keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa
terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaanberhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk
engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai
bukti,bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh
apapun jua.Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah
mampu berkata:"TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu.Engkau adalah milik Tuhan.Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena
pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari
siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata
dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu
mencerahkanku.Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah
mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan
pemilikmu.Melakukan segala sesuatu karena Nya,bukan karena kaudan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.Inilah usaha terberatku Nak, karena artinyaaku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat
dengan Tuhan.Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginanTuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu
sulit.Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan
lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kitasatu sama lain.Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang
sebenarnya.Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh
berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan
berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kalimemeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampirputus asa.Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusiadikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakkuamat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia.Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semuatitipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.Dari ayah yang senantiasa merindukanmu

Sebuah Titipan

SEBUAH TITIPAN

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
Semua miliku hanya titipan Allah
Rumah yangaku tinggali hanya titipan Nya,
Hartaku hanya titipan Nya,
Putriku hanya titipan Nya,


tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,mengapa
Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
kuminta apa yang cocok dalam hidupku,
kuminta kesehatan keluargaku,
kuminta diberi kemudahan dalam mengahadapi segala cobaan dan rintangan
semuanya aku tetap berdoa
untuk keselamatan keluargaku

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
perhitungan matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Gusti............,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
hanya Dialah yang Maha Agung dan Maha Besar
Semuanya Kuasa Nya
Amin...........

Dialog Iblis dengan Rasulullah SAW

Assalamu alaikum wr.wb



Mudah2an ada waktu sejenak untuk membaca ini

Dialog Iblis dengan Rasulullah SAW
Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):
“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”

Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”

Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.

Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”

Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

Setengah-setengahny a datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya - matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar - besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ - dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.

Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”

Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”

Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”







The People We Love Have Lost
or The Dreams that have FADED

Best Regards,
adi_xv

Is it Really Better to
Have Loved and lost…
…Than to Have Never
Loved Before…???


DIarsipkan di bawah: Ghoib

Tetes Air Mata Mu...

Diam....

Wajahmu....

Tetes air Matamu....

membuat hatiku selalu teringgat

membuat hatiku miris

membuat hatiku iba

membuat hatiku dan anganku menerawang

wahai ...Bintang kecil ku..

aku sayang kamu

aku cinta kamu

apa yang aku lakukan semuanya demi kamu

aku tidak meninggalkan mu

aku akan selalu di samping mu

sampai kapanpun

love u baby....

Kehadirannmu...

Kehadiranmu menjadi waktu yang sangat dinantikan. Hari demi haripun kau mulai menjadi bagian dari harapan kami citakan, sebutan kakak pun mulai dikenalkan agar ketika kau melihat mentari kau tau bahwa kau tak sendiri ada Ayah, Ibu dan Kakak yang akan menemani menikmati kehangatannya.

Suatu keajaiban dalam hidup menerima anugerah titipan yang begitu mulia, bahkan melebihi seorang pelukis yang diberi kebebasan untuk menyapukan warna hitam putih bahkan pink untuk menceriakan hidup ini. Cemas dan harap tak pernah lepas terbayang, tapi tersapukan dengan doa doa yang tak henti selalu terucapkan oleh banyak tangan yang ditengadahkan pada Nya. Bahkan hanya secuil ucapan yang sering diucapkan ”De, cepat besar ya,nanti kakak ajak maen bola ditimezone”.






Ibu...Ayah... Kakak...

Yang menantimu.

Sejarah Cirebon

Sejarah Cirebon

Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.
Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daer5ah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.
Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.
Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.
Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.
Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.
Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.(mengenal kasultanan kasepuhan cirebon)

Monday, October 08, 2007

Mau Mudik ...

Pagi ini masih di kantor masih nyelesaiin kerjaan nihh... belum kelar, mana belum tidur lagi..., kantor jam segini udah mulai kelihatan agak sepi , jangan2 dah pada mudik...., tadi pagi ...pagi... banget temen satu team udah berangkat mudik, dia mudik naik pesawat, aku sendiri belum dapet tiket ..... hari lebaran bentar lagi dah deket.... gileee....

Kerjaan tinggal satu lagi mana belum pasti....gara2 ada satu orang yang tidak bertanggung jawab dengan tugas kerjaannya... nyuekin lagi...bikin kesel orang semua team... begini nih..kalau orang yang sok tua dan sok senior pengennya enak sendiri aza....kemarin dia masuk eh...sama sekali ngak merhatiin tugasnya.... ya udahlah ngak usah mikirin orang lain yang penting tugas dan kerjaan gue kelar....dan gue bisa pulang mudik kumpul ama keluarga...
Lebaran ...sebentar ...lagi ....

Saturday, October 06, 2007

+1

Tambah satu usia ku kini…
Waktu terus berjalan…. bulan pun terus bergantian….
Tahun demi tahun kulalui bersama mu….
Sekarang telah ada satu lagi bertambah di antara kita…
tumbuh… dan berkembang…. usia pun terus bertambah
mengikuti umur ku sekarang….

terima Kasih....Tuhan

Ya Allah ….
terimakasih engaku telah memberikan kami seorang anak yang lucu dan pinter….
Semoga Anak kami menjadi seorang anak yang sholeh/sholeha,

berbakti kepada oangtua dan berguna bagi bangsa dan agama….

Sabar


Dimulai dari awal hingga pertengahan puasa, tahun ini, kayaknya kesabaran saya sedang di coba, kuatkah diri saya ini……
Tidak seperti dulu saya selalu beritikaf, berjalan menuju dan mencari suatu kebenaran Yang Maha Kuasa …. Mencari jati diri seperti apa diriku ini…..
Mengkoreksi diri dan selalu berkaca-kaca…. seperti apa hidup yang kujalani ini
Akankah selalu berubah ubah seperti ini….
Ya Allah…. tunjukkan jalan hambamu ini…. berilah… kemuzizatan pada hambamu ini…. seperti engkau memberi orang2 sebelum kami…. Aku akan tetap
berusaha dan berdoa kepada Mu Ya Allah…

Penjelajahan di Muara Teweh

Bagi yang menyukai petualangan atau penjelajahan, perjalanan jauh akan begitu menyenangkan, apalagi perjalanan itu bersama temen2, seperti halnya saya, kali ini saya bersama reporter dan asprod menjelajahi sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah tepatnya di tepian hulu sungai Barito, Muara Teweh.

Awal perjalanan kami dari Jakarta menuju Banjarmasin di tempuh dengan jarak 1 jam 40 menit, dari Banjarmasin menuju Muara Teweh menenpuh perjalanan yang cukup jauh sekitar 10 jam, terlebih dulu melewati daerah-daerah seperti; Kandangan-Amuntai-Tamiang Layang-Ampah-Kandui-dan smpailah di Muara Teweh. Di sepanjang perjalanan kami hanya tertidur kecapean, di kanan kiri terlihat hutan dan pohon2 yang sangat lebat, ya…kanan kirinya hutan.

Muara Teweh merupakan titik awal sebelum memulai perjalanan menyusuri hutan lumut dan pegunungan Kalimantan Tengah. Muara Teweh termasuk wilayah pedalaman yang berada di hulu Sungai Barito dan merupakan salah satu kawasan penebangan hutan (loging).
Kamipun menyempatkan diri untuk menjelajahi rumah lanting tepatnya di depan hotel tempat kami menginap. Terlihat hamparan rumah di atas sungai barito, air sungai saat ini sedang surut, kami pun mencoba berkeliling mengunakan klotok, sebuah perahu motor kecil.

Perjalanan di lanjutkan ke esok harinya, pukul 6 pagi kita berangkat menuju Hutan lumut, dari Muara Teweh tempat kami menginap menuju base camp pertama perjalanannya di tempuh 3 jam, base camp 1 menuju sei Mea 1jam 30 menit, semuanya harus di tempuh dengan mengunakan kendaraan yang memakai double gardan karena daerah dan jalannya naik turun dan bertanah merah, dari Sei Mea menuju gunung lumut kami akhirnya berjalan kaki menuju puncak, memang perjalanan dan penjelajahan kali ini di tuntut penuh kesabaran, bayangin naik gunung dengan kondisi dalam keadan kami berpuasa, ya… kami ambil hikmahnya saja perjalanan itu.

kami pun akhirnya tak sampai menuju puncak, di pertengahan hutan kami dengan di temani para pekerja hutan akhirnya kembali menuju base camp. Alhamdulillah… kami pun masih dalam keadaan berpuasa…sampai akhirnya sayup…demi sayup… suara adzan memanggil kita untuk menunaikan ibadah sholat mangrib, akhirnya setengak air mineral membasahi kerongkongan kami.

Saturday, October 14, 2006

boy komar

boy komar
22.05 wib / 14/10/06

ketika hari-hariku seorang diri
hatiku bernyanyi...
bait demi bait kurangkai
menghiasi kesendirianku
hanya berteman dengan kesunyian

pagi.... siang.... malam................
akhirnya........ tiba
kesunyian itu masih terasa hatiku
terus bergejolak
dalam tidurku....
mimpi-mimpi menghiasi rasa galau ku
hawa dingin menusuk tulangku

Thursday, October 12, 2006

22.30 Wib/12/10/06

duhh hari ini males banget
dan merasa diriku tak berharga buat diriku sendiri
merasa tak mampu untuk selalu melakukan sesuatu
tak percaya diri...
merasa tak pantas....
haruskah aku terus-terusan meratapi

Friday, September 08, 2006

Rahasia



Rahasia hatiku

aku sadari..aku menyadari sepenuhnya jika aku menyukai dirimu
aku tak ingin sepenuhnya kehilangan dirimu
saat ini kuingin mengiringi malammu dengan puisiku kudendangkan puisi cintaku
semoga terhibur dalam mimpimuku
bersama seribu bintang
namun aku tak bersama cahayamu
kubersama hangatnya malam
namun tak bersama hangatnya hadirmu
kuingin semua malam ada dirimuku
ingin semua suara adalah nadamu
kuingin semua langkahku menuju rumahmu
kuingin semua mimpiku terhias senyumanmu
boy komar2006
kuingin banyak hal bersamamu
aku tlah jatuh cinta padamu
namun satu hal takutkuaku tak ingin kehilanganmu
sungguh tak ingin kehilanganmu
biarlah aku pendam rasa ini untukku sendiri
dan kau akan selalu terdiaminilah perasaanku padamu
dan aku tak ingin mengecewakanmu sahabat
jika aku menyukaimu lebih dari seorang sahabat

Thursday, August 24, 2006

Jumat, 25/8/06, 8.30

foto by boy komar 2005

Kala pagi tiba
Sinar mulai menyinari alam semesta
Tak sengaja aku temukan kata itu
Di helai kertas terbangMenutupi mata, hidung, telinga dan bibirkuTulisannya buram oleh butir jatuh saljuarahnya membingungkanseperti bentuk purbatapi aksaranya segar hijau mudaAku bawa pulang ke kamarku
Tak sabar aku buka kamus dan leksikonku
Tapi tiada kutemukan satu item untuk kata itu
Aku cari di baris-baris kitabku
Tapi tiada sepotong ayat menyinggung kata ituDi atas sajadah kecilku cuma ada tiang dan altar
Cuma hadir sosok benda-benda tak bernyawa
Di pinggir sisi-sisinya ada bentuk rekah bunga
Tapi tidak ada putiknya
Terdapat kubah menangkap kepalanya
Tapi tidak ada aksara di atasnyaMaka aku berlari menemui profesor-profesorku
Mereka menggelengkan kepala
Terheran tak tahu makna maksudnya
Kata itu ada sebelum ada itu ada
Kata itu tidak bertanah tidak bertuan
Tidak berlangit tidak berbumi
Tidak berair tidak berudara tidak berapi
Tidak beruang tidak berwaktu tidak bertepi
Aku rengkuh dia bahkan bayangannya juga sirna
Aku cumbu dia bahkan dzatnya juga tiada
Di ujung malam di bawah selimut jaman
Aku telusuri seluruh lekuk tubuhku
Di tumpukan dakinya aku temukan arti kata itu

23.05/25/08/2006

Ketika malam tiba.....
kesunyian pun terasa
hanya seorang diri
berteman dengan kesunyian

betapa aku ingin terbang melayang
bebas...............
betapa aku ingin mencintai hati ini
sepenuh hati.....
betapa aku ingin melangkah
langkah... yang pasti
sanggup alirkan cahya dalam setiap langkahku
..Tuhan.......
salahkah aku harapkan bahagia ini tak berbatas waktu
terus .... bahagia
23.15